Rabu, 01 Juni 2016

KEPEMIMPINAN


A.        Arti Penting Kepemimpinan

            Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan juga dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuai tujuan bersama. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria yang tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yag digunakan, apakah itu kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat-sifatnya, atau kewenangannya yang dimiliki yang mana nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang akan diterapkan. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan adalah “melakukan dalam kerja” dengan praktik seperti pemagangan pada seorang seniman ahli, pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang ahli diharapkan sebagai bagian dari perannya memberikan pengajaran/instruksi.

            Kebanyakan orang masih cenderung mengatakan bahwa pemimpin yang efektif mempunyai sifat atau ciri-ciri tertentu yang sangat penting misalnya, kharisma, pandangan ke depan, daya persuasi, dan intensitas. Dan memang apabila kita berpikir tentang pemimpin yang heroik seperti Napoleon, Washington, Lincolin, Churchil, Soekarno, Jendral Sudirman, dan sebagainya kita harus mengakui bahwa sifat-sifat seperti itu melekat pada diri mereka dan telah mereka manfaatkan untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan.

B.        Tugas Pokok Kepemimpinan

            Tugas pokok seorang pemimpin yaitu melaksanakan fungsi-fungsi manajemen seperti yang telah disebutkan sebelumnya yang terdiri dari merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan, dan mengawasi. Terlaksananya tugas-tugas tersebut tidak dapat dicapai hanya oleh pemimpin seorang diri, tetapi dengan menggerakkan orang-orang yang dipimpinnya. Agar orang-orang yang dipimpin mau bekerja secara efektif. Seorang pemimpin di samping itu harus memiliki inisiatif dan kreatif harus selalu memperhatikan hubungan manusiawi. Secara lebih terinci tugas-tugas seorang pemimpin meliputi :

  1. Pengambilan keputusaan menetapkan sasaran dan menyusun kebijaksanaan
  2. Mengorganisasikan dan menempatkan pekerjaan
  3. Mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan  baik secara vertikal (antara bawahan atau atasan) maupun secara horisontal (antar bagian dan unit),
  4. Serta memimpin dan mengawasi pelaksanaan pekerjaan.


Sedangkan secara umum, tugas-tugas pokok pemimpin antara lain :

  1. Melaksanakan fungsi Managerial, yaitu berupa kegiatan pokok meliputi pelaksanaan :

  1. Penyusunan rencana
  2. Penyusunan organisasi pengarahan organisasi pengendalian penilaian
  3. Pelaporan

  1. Mendorong (memotivasi) bawahan untuk dapat bekerja dengan giat dan tekun.
  2. Membina bawahan agar dapat memikul tanggung jawab tugas masing-masing secara baik.
  3. Membina bawahan agar dapat bekerja secara efektif dan efisien.
  4. Menciptakan iklim kerja yang baik dan harmonis.
  5. Menyusun fungsi manajemen secara baik.
  6. Menjadi penggerak yang baik dan dapat menjadi sumber kreatifitas.
  7. Menjadi wakil dalam membina hubungan dengan pihak luar.


C.        Hakekat Seorang Pemimpin

            Hakekat seorang pemimpin negara adalah seseorang yang mampu menata diri dan hatinya. Pemimpin negara mempunyai tugas menata dan membawa arah pada tujuan yang ingin dicapai. Jabatan pemimpin negara adalah amanah dari seluruh rakyat, kepercayaan, dan wadah untuk berbuat baik. Jabatan pemimpin bisa menjadi jalan menuju surga dan bisa menjadi pembawa kepada kemuliaan atau kepada angkara murka.

            Seorang pemimpin harus menata diri, artinya mampu membawa dirinya dalam wujud perilaku tindakan dalam koridor-koridor kebenaran yang bersifat universal. Negeri yang bersifat heterogen akan lebih baik jika pemimpinnya bersikap dengan membawa kebenaran yang berlaku umum dan tidak kaku mati dalam pelaksanaan salah satu agama tertentu. Pelaksanaan amalan ini tidak membuat yang bersangkutan menjadi seorang yang tidak religi, yang tidak melaksanakan tuntunsn agamanya dengan benar. Justru karena kebenaran universal pasti diakui sebagai kebenaran dalam agama manapun.

            Menata hati adalah sumber dari penataan diri. Sikap dan perilaku adalah perwujudan dari pikiran, pikiran adalah pengejawantahan dari suasana hati. Dalam bahasa spiritual suasana hati sering digambarkan dengn keadaan jagad bathin. Hati yang bersih, hati yang jernih mampu melihat segala permasalahan dengan jelas, adil dan tidak memihak. Dengan ditemukannya akar masalah maka jalan keluar dapat ditemukan.semua ini bisa berjalan dengan mudah karena dalam hati bersih menjadi seperti cermin, segalanya terlihat jelas tanpa penghalang. Maka perlu menjadi koreksi diri jika seseorang telah bisa menata dirinya, tetapi bagaimana dengan menata hati. Apakah sudah layak untuk menjadi pemimpin. Alangkah naifnya jika negeri ini dipimpin oleh orang-orang yang memang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara kualitas baik dirinya maupun hatinya. Memang pilihannya adalah yang terbaik dari yang tidak baik. Masih saja asam karena bukan yang terbaik dari yang baik-baik. Tetapi begitulah proses.

            Peningkatan posisi atau jabatan harus diiringi dengan kesiapan mental sang pemimpin. Bagaimana tetap bisa membumi, andap asor, dan jiwa besar dalam melaksanakan amanah yang ditanggungnya. Godaan terbesar adalah kekuasaan melahirkan penghormatan dan kewenangan. Apabila itu tidak dilandasi dengan jiwa yang luhur maka akan melahirkan kesewenang-wenangan. Bertanyalah kepada diri sendiri, apakah sudah sesuai dengan syarat ketentuan yang berlaku untuk menjadi seorang pemimpin yang mampu mengayomi masyarakat dan seluruh rakyat, menjadi panutan dan tuntunan menuju jalan kemakmuran dan keselamatan. Membawa negara dan seluruh rakyat menuju cita-cita bersama untuk kemuliaan dan keluhuran bangsa, dan bukan karena ambisi dan keinginan diri pribadi. Jika semuanya ini sudah terpenuhi, tanpa dimohon, hanya  dengan keyakinan maka segenap alam semestaakan merestui. 



D.        Teori Kepemimpinan

            Memahami teori-teori kepemimpinan sangat besar artinya untuk mengkaji sejauh mana kepemimpinan dalam suatu organisasi telah dapat dilaksanakan secara efektif serta menunjang kepada produktifitas organisasi secara keseluruhan. Seorang pemimpin harus mengerti tentang teori kepemimpinan agar nantinya mempunyai referensi dalam menjalankan sebuah organisasi. Beberapa teori tentang kepemimpinan antara lain :

  1. Teori Kepemimpinan Sifat (Trait Theory)
    Analisis ilmiah tentang kepemimpinan berangkat dari pemusatan perhatian pemimpin itu sendiri. Teori sifat berkembang pertama kali di Yunani Kuno dan Romawi yang beranggapan bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukan diciptakan yang kemudian teori ini dikenal dengan “The Greatma Theory”. Dalam perkembangannya, teori ini mendapat pengaruh dari aliran perilaku pemikir psikologi yang berpandangan bahwa sifat-sifat kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan akan tetapi juga dapat dicapai melalui pendidikan dan pengalaman. Sifat-sifat itu antara lain: sifat fisik, mental, dan kepribadian. Keith Devis merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberasilan kepemimpinan organisasi, antara lain :

  1. Kecerdasan
    Berdasarkan hasil penelitin, pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang tinggi diatas kecerdasan rata-rata dari pengikutnya akan mempunyai kesempatan berhasil yang tinggi pula. Karena pemimpin pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengikutnya.
  2. Kedewasan dan Keluasan Hubungan Sosial
    Umumnya didalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan internal maupun eksternal, seorang pemimpin yang berhasil mempunyai emosi yang matang dan stabil. Hal ini membuat pemimpin tidak mudah panik dan goyah dalam mempertahankan pendirian yang diyakini kebenarannya.
  3. Sikap Hubungan kemanusiaan
    Adanya pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan sehingga para pengikutnya mampu berpihak kepadanya.





  1. Teori Kepemimpinan Perilaku dan Situasi
    Berdasarkan penelitian, perilaku seorang pemimpin yang mendasrkan teori ini memiliki kecenderungan kearah 2 hal.

  1. Pertama yang disebut dengan Konsiderasi yaitu kecenderungan seorang pemimpin yang menggambarkan hubungan akrab dengan bawahan.
  2. Yang kedua disebut Struktur Inisiasi yaitu kecenderungan seorang pemimpin yang memberikan batasan kepada bawahan.
    Jadi, berdasarkan teori ini, seorang pemimpin yng baik adalah bagaimana seorang pemimpin yang memiliki perhatian yang tinggi kepada bawahan dn terhadap hasil yang tinggi pula.


  1. Teori Kewibawaan Pemimpin
    Kewibawan merupakan faktor penting dalam kehidupan kepemimpinan, sebab dengan faktor itu seorang pemimpin akan dapat mempengaruhi perilaku orang lain baik secara perorangan maupun kelompok sehingga orang tersebut bersedia untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh pemimpin.

  2. Teori Kepemimpinan Situasi
    Seorang pemimpin harus merupakan seorang pendiagnosa yang baik dan harus bersifat fleksibel, sesuai dengan perkembangan dan tingkat kedewasaan bawahan.

  3. Teori Kelompok
    Agar tujuan kelompok (organisasi) dapat tercapai, harus ada pertukaran yang positif antara pemimpin dengan pengikutnya.




E.        Tipologi Kepemimpinan

Tipologi kepemimpinan disusun dengan titik tolak interaksi personal yang ada dalam kelompok. Tipe-tipe pemimpin dalam tipologi berdasarkan jenis-jenisnya antara lain :

  1. Tipe Otokratis
    Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut :

  1. Mengangap organisasi sebagai pemilik pribadi
  2. Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi
  3. Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata
  4. Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat
  5. Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya, dalam tindakan penggerakkannya sering mempergunakan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum


  1. Tipe Militeristis
    Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang pemimpin tipe militerisme berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut :

  1. Dalam menggerakkan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan
  2. Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya
  3. Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan
  4. Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan
  5. Sukar menerima kritikan dari bawahannya
  6. Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan


  1. Tipe Paternalistis
    Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai berikut :

  1. Mengaggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa
  2. Bersikap terlalu melindungi (overly protective)
  3. Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan
  4. Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif
  5. Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya
  6. Dan sering bersikap maha tahu


  1. Tipe Karismatik
    Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural powers). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan sebbagai kriteria untuk karisma. Gandhi bukanlah seorang yang kaya, Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang yang fisik sehat, John F Kennedy adalah seorang pemimpin yang memiliki karisma meskipun umurnya masih muda pada waktu terpilih menjadi presiden Amerika Serikat. Mengenai profil, Gandhi tidak dapat digolongkan sebagai orang yang ‘ganteng’.

  2. Tipe Demokratis
    Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut :

  1. Dalam proses penggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia
  2. Selalu berusaha mensingkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya
  3. Senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya
  4. Selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan
  5. Ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahn yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain
  6. Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya, dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.




F.         Contoh Kasus

Muhammad Nazarudin merupakan seorang pengusaha dan politisi Indonesia yang menjadi anggota Dewan Perwakilan rakyat (DPR) periode 2009-20014 dari partai Demokrat, setelah menjabat sebagai bendahara umum partai demokrat pada tahun 2010, pada tahun 2011 komisi pemberantas korupsi (kpk) menjadikannya tersangka kasus suap pembangunan wisma atlet untuk SEA Games ke-26, Nazarudin meninggalkan Indonesia sebelum statusnya menjadi tersangka dan menyatakaan melalui media massa bahwa sejumlah pejabat lain juga terlibat dalam kasus suap tersebut, hingga akhirnya ia tertangkap di Cartagena de Indias, Kolombia.

Pada 21 April 2011, komisi pemberantas korupsi (KPK) menangkap sekretaris mentri pemuda dan olahraga Wafid Muharam, pejabatperusahaan rekanan Mohammad el Idris, dan perantara Mindo Rosalina manulang karena diduga sedang melakukan tindak pidana korupsi suap menyuap. Penyidik KPK menemukan 3 lembar cek tunai dengan jumlah kurang lebih sebesar Rp.3,2 miliyar dilokasi penangkapan. Keesokan harinya, ketiga orang tersebut dijadikan tersangka tindak pidana korupsi suap menyuap terkait dengan pembangunan wisma atlet untuk SEA Games ke-26 di Palembang, Sumatera Selatan. Mohammad El Idris mengaku sebagai manejer pemasaran PT Duta Graha Indah, perusahaan yang menjalankan proyek pembangunan wisma atlet tersebut, dan juru bicara KPK Jhon Budi menyatakan bahwa cek yang diterima Wafid Muharam merupakan uang balas jasa dari PT DGI karena telah memenangi tender proyek itu.

Pada 27 April 2011, koordinator LSM masyarakat anti korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman menyatakan kepada wartawan bahwa Mindo Rosalina Manulang adalah staf Muhammad Nazarudin. Nazarudin menyangkal pernyataan itu dan mengatakan bahwa ia tidak mengenal Rosalina maupun Wahid. Namun, pernyataan Boyamin tersebut sesuai dengan keterangan Rosalina sendiri kepada penyidik KPK pada hari yang sama dan keterangan kuasa hukum Rosalina, Komarudin Simanjuntak, kepada wartawan keesokan harinya. Kepada penyidik KPK, Rosalina menyatakan bahwa pada tahun 2010 ia diminta Nazarudin untuk mempertemukan pihak PT DGI dengan Wahid, dan bahwa PT DGI akhirnya menang tender karena sanggup memberi komisi 15 persen dari nilai proyek, dua persen untuk Wafid dan 13 persen untuk Nazaruddin. Akan tetapi, Rosalina lalu mengganti pengacaranya menjadi Djufri Taufik dan membantah bahwa Nazaruddin adalah atasannya. Ia bahkan kemudian menyatakan bahwa Kamaruddin, mantan pengacaranya, berniat menghancurkan partai Demokrat sehingga merekayasa keterangan sebelumnya DAN PADA 12 Mei Rosalina resmi mengubah keterangnnya mengenai keterlibatan Nazaruddin dalam berita acara pemeriksannya. Namun demikian, Wafid menyatakan bahwa ia pernah bertemu beberapa kali dengan Nazaruddin setelah dikenalkan kepadanya oleh Rosalina.

Dalam kasus ini peran pemimpin sangat berpengaruh, karena seorang pemimpin harus tegas kepada anggotanya. Jika pemimpin dalam organisasi tersebut memiliki sifat yang lemah dan mudah terhasut maka anggotanya yang berbuat salah tersebut akan diberikan sanksi yang tidak sepadan dengan perbuatannya yang sudah mencoreng nama baik partai/ organisasi. Karna dalam suatu organisasi memiliki tujuan yang sama, pemimpin dan anggota harus saling mendorong dan menasehati dalam hal kebaikan, dalam halnya kasus yang lain jika seorang pemimpinnya saja sudah tidak baik gimana dengan anggotanya.

Maka dari itu dalam suatu partai/organisasi pemimpin yang tegs dan jujur sangatlah dibutuhkan, agar tidak menyesatkan anggota yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar