Telah
terbuka gerbang dialog antara Risa dan dunia mereka, telah Risa rangkai
kisah-kisah baru. Penciuman Risa tetap tertutup rapat, namun kini telinga,
mata, hati, dan pikiran Risa terbuka lebar untuk mereka. Tak selamanya
Danur itu menjijikkan.
Tak
mudah melalui fase kehidupan yang cukup rumit dengan usia yang rasanya belum
mampu menghadapi serangkaian peristiwa tidak biasa, tak mudah menjalani hidup
sebagai anak-anak normal jika semua yang Risa anggap normal ternyata hal-hal
tidak normal. Risa menganggap tembok adalah benda hidup, sama seperti kalian. Teman-teman
yang bisa Risa ajak berinteraksi untuk mendiskusikan apapun yang Risa anggap
penting. Risa menganggap pohon adalah mahluk bergerak yang setiap saat bisa
saja Risa mintai bantuan, yang setiap saat ikut bergerak saat Risa melangkah,
dan setiap saat melihat apa yang akan Risa lakukan mencermati isi kepala Risa.
Tubuh
Risa begitu kecil saat Risa tahu kelima sahabatnya ternyata onggokan belulang
manusia tanpa kepala yang jelas jauh berbeda dengannya yang masih bisa berdiri
tegap, melangkah bebas, menapaki tanah, dan nyata untuk diraba. Bukan takut
yang menyergap, perasaan iba muncul ke permukaan melebihi apapun yang pernah
Risa rasakan terhadap mahkluk-mahkluk seperti Risa.
Risa
masih belia ketika akhirnya kelima sahabatnya pergi meninggalkan Risa sendiri
ditengah bau Danur yang semakin mengusik hari-hariku. Kalian tahu apa itu
Danur? Danur adalah air yang muncul dari jasad mahkluk hidup yang telah mati
dan membusuk. Risa menutup penciumannya, ktutup mataku, kututup hatiku untuk
Danur-Danur baru yang muncul sepeninggal mereka.
Berjuang
menyeimbangkan langkah agar tetap merasa normal hingga akhirnya Risa menemukan
cara agar semuanya terasa baik-baik saja. Tak selamanya Danur itu menyengat dan
membuat Risa lunglai, kelima sahabatnya pergi. Namun segala sesuatunya selalu
sama, kepergian mereka mendatangkan sahabat-sahabat baru untuknya.
Pengalaman-pengalaman baru, kisah-kisah baru. Drama selalu dipenuhi drama. Karena
kini Risa bisa mencium banyak wewangian yang muncul karenanya. Peter, William,
Hans, Hendrick, Janshen, Samantha, Jane, Ardiah, Edwin, Teddy, Sarah,
Elizabeth, Kasih adalah beberapa tokoh dari sekian banyak sahabat di proses
hidupnya hingga kini.
Jangan heran jika mendapati Risa
sedang bicara sendirian atau tertawa tanpa seorang pun terlihat bersamanya.
Saat itu, mungkin saja Risa sedang bersama salah satu dari lima sahabatnya. Kalian
mungkin tak melihatnya. Wajar. Mereka memang tak kasat mata dan sering disebut
hantu jiwa-jiwa penasaran atas kehidupan yang dianggap mereka tidak adil.
Kelebihan Risa dapat melihat mereka
adalah anugerah sekaligus kutukan. Kelebihan ini membawanya ke dalam persahabatan
unik dengan lima anak hantu Belanda. Hari-hari Risa dilewati dengan canda
Peter, pertengkaran Hans dan Hendrick dua sahabat yang sering berkelahi, alunan
lirih biola William, dan tak lupa rengekan si Bungsu Johnsen.
Jauh dari kehidupan
"normal" adalah harga yang harus dibayar atas kebahagiaan Risa
bersama mereka. Dan semua itu harus berubah ketika persahabatan mereka meminta
lebih, yaitu kebersamaan selamanya. Risa tak bisa memberi itu. Risa mulai
menyadari bahwa hidup ini bukan hanya milik dia seorang.
Risa namnya. Risa bisa melihat
'mereka'. Pertemuan pertama Risa dengan teman-teman spesialnya
adalah ketika Risa masih di bangku sekolah dasar, ketika dia baru saja pindah
ke Bandung tinggal di rumah peninggalan zaman Belanda bersama neneknya. Risa
tidak nyaman dengan teman sekolahnya, dia mendapatkan perlakuan yang tidak
menyenangkan, sering waktunya dihabiskan sendiri, hari-harinya terasa menyiksa.
Namun, sejak ada suara anak laki-laki yang memanggil namanya, seorang anak
laki-laki keturunan Belanda berambut pirang agak kecokelatan menghampirinya,
kehidupan Risa berubah, dia mendapatkan sahabat, tidak hanya satu, tetapi lima
sekaligus, sahabat beda dunia, mereka adalah hantu.
Mereka tak terpisahkan, bahkan Peter
si nakal, William si pemain biola yang bijaksana, Hans si ahli pembuat kue,
Hendrick sang primadona, dan Janshen si ompong sering memberi Risa semangat
dalam hal apa pun, salah satu contoh untuk pergi sekolah, hal yang sangat tidak
disukai Risa. Mereka adalah sumber tawa Risa, keluarga kecilnya. Namun, Risa
sadar persahabatan mereka tidak akan abadi, Risa akan terus tumbuh menjadi
gadis dewasa, mempunyai kehidupan sendiri bersama teman-teman yang
sesungguhnya, sedangkan kelima sahabat kecilnya tetap akan menjadi anak kecil
yang polos, lugu, jahil, dan tidak akan tumbuh dewasa.
Pernah terbersit untuk ikut ke dunia
Peter, beberapa kali dia mencoba bunuh diri tetapi selalu gagal sampai akhirnya
Risa sadar kalau hidupnya bukan hanya untuk dirinya, ada keluarga yang
menyayanginya, ada teman-teman baru yang tidak akan rela bila Risa meninggalkan
mereka. Bahkan, kisah hidup para sahabatnya menjadi pelajaran bagi Risa akan
betapa pentingnya arti sebuah keluarga.
Peter yang sangat merindukan ibunya,
Hans dan Hendrick yang dulunya bertetanggan walau sering bertengkar mereka
saling menyayangi satu sama lain, sama halnya dengan kebanyakan orang. William
yang kesepian, dia berasal dari keluarga kaya raya tapi minim perhatian, hanya
dengan biolanya -Nouval dia tidak merasa sendirian. Kemudian si kecil Janshen
yang sangat merindukan kakak perempuanya, Annabelle. Mereka memang nakal dan
usil, tapi mereka layaknya anak kecil kebanyakan, semua mereka lakukan untuk
menarik perhatian agar lebih didengar.
Pertemuan terakhir Risa dengan
kelima sahabatnya adalah ketika Risa menginjak usia tiga belas tahun. Dulu Risa
berjanji kalau usinya sama seperti Peter dia akan ikut ke dunianya, mengakhiri
hidupnya. Tapi Risa mengingkari janji, dia ingin terus melanjutkan hidup. Peter
marah dan bersama lainnya menghilang tidak pernah muncul lagi. Risa sangat
kehilangan mereka, beberapa kali memohon agar mereka kembali, Risa tahu mereka
masih berada di sekitarnya tapi enggan menampakkan diri.
Beranjak dewasa, kemampuannya masih
tetap ada tapi bukan kelima hantu kecil Belanda yang dia lihat, dia melihat
hantu-hantu yang lain, berbagai rupa, mendengar kisah hidup mereka, kadang
sampai tidak tahan, ingin buta dan tuli sekaligus agar bisa hidup normal. Risa
berharap suatu saat dia akan bertemu dengan sahabat-sahabat kecilnya, walau dia
sudah tidak anak-anak lagi.
Seringkali kalian para orangtua, bersikap sangat realistis
hingga acuh tak acuh dengan apa yang menurut kalian sangatlah tak logis. Risa
memutuskan untuk bersabar sajalah. Mereka pasti nggak akan kuat berlama-lama
tak menemui Risa lagi. Sementara waktu, Risa bisa bergaul dengan teman-teman
sekolahnya yang sangat menyenangkan. Lagipula nggak ada salahnya mengenal
hantu-hantu baru. Biarpun mereka jelek, tapi mereka sangat kasihan dan butuh
teman bicara. Risa bisa menjadi seperti kita bagi mereka, menjadi diary yang
bisa mereka coret dengan tinta-tinta kehidupan mereka saat masih hidup.
Risa belum sepenuhnya merasa menjadi perempuan dewasa.
Karena, secara fisik mungkin memang terlihat sangat dewasa, namun secara sikap
dia masih saja merasa sangat kekanakkan. Namun ada yang berbeda dari cara
pandang dia. Kini, sebisa mungkin dia menikmati semua proses yang terjadi dalam
kisah hidupnya. Tuhan mungkin memang menuliskan jalan hidup baginya, tapi tuhan
masih memberinya kesempatan untuk menjalaninya sesuai yang diamau. Jika Risa terjatuh
terperosok hingga tak mampu lagi bangkit, itu semua salahnya, bukan salah
Tuhan, ujarnya seperti itu.
Kini mulai terlihat cahaya-cahaya indah di depan sana.
Cahaya yang selama ini dicari oleh Riisa untuk menerangi hidup yang selama ini
dia anggap suram dan remang. Semua yang pernah hilang berangsur kembali datang
kedalam hidupnya yang kini mulai berwarna. Dia merindukan masa-masa seperti
ini, mungkin suatu saat nanti masa-masa ini akan pergi seperti dulu lagi.
Mungkin nanti akan ada masa dimana akhirnya Risa kembali
sendiri, mencoba merangkai kisah hidupnya tanpa didampingi siapa pun, dan Risa
sangat berharap saat itu teman-teman hantunya mau kembali menjadi teman
setianya.