Rabu, 01 Juni 2016

DANUR


Telah terbuka gerbang dialog antara Risa dan dunia mereka, telah Risa rangkai kisah-kisah baru. Penciuman Risa tetap tertutup rapat, namun kini telinga, mata,  hati, dan pikiran Risa terbuka lebar untuk mereka. Tak selamanya Danur itu menjijikkan.

Tak mudah melalui fase kehidupan yang cukup rumit dengan usia yang rasanya belum mampu menghadapi serangkaian peristiwa tidak biasa, tak mudah menjalani hidup sebagai anak-anak normal jika semua yang Risa anggap normal ternyata hal-hal tidak normal. Risa menganggap tembok adalah benda hidup, sama seperti kalian. Teman-teman yang bisa Risa ajak berinteraksi untuk mendiskusikan apapun yang Risa anggap penting. Risa menganggap pohon adalah mahluk bergerak yang setiap saat bisa saja Risa mintai bantuan, yang setiap saat ikut bergerak saat Risa melangkah, dan setiap saat melihat apa yang akan Risa lakukan mencermati isi kepala Risa.

Tubuh Risa begitu kecil saat Risa tahu kelima sahabatnya ternyata onggokan belulang manusia tanpa kepala yang jelas jauh berbeda dengannya yang masih bisa berdiri tegap, melangkah bebas, menapaki tanah, dan nyata untuk diraba. Bukan takut yang menyergap, perasaan iba muncul ke permukaan melebihi apapun yang pernah Risa rasakan terhadap mahkluk-mahkluk seperti Risa.

Risa masih belia ketika akhirnya kelima sahabatnya pergi meninggalkan Risa sendiri ditengah bau Danur yang semakin mengusik hari-hariku. Kalian tahu apa itu Danur? Danur adalah air yang muncul dari jasad mahkluk hidup yang telah mati dan membusuk. Risa menutup penciumannya, ktutup mataku, kututup hatiku untuk Danur-Danur baru yang muncul sepeninggal mereka.

Berjuang menyeimbangkan langkah agar tetap merasa normal hingga akhirnya Risa menemukan cara agar semuanya terasa baik-baik saja. Tak selamanya Danur itu menyengat dan membuat Risa lunglai, kelima sahabatnya pergi. Namun segala sesuatunya selalu sama, kepergian mereka mendatangkan sahabat-sahabat baru untuknya. Pengalaman-pengalaman baru, kisah-kisah baru. Drama selalu dipenuhi drama. Karena kini Risa bisa mencium banyak wewangian yang muncul karenanya. Peter, William, Hans, Hendrick, Janshen, Samantha, Jane, Ardiah, Edwin, Teddy, Sarah, Elizabeth, Kasih adalah beberapa tokoh dari sekian banyak sahabat di proses hidupnya hingga kini.

Jangan heran jika mendapati Risa sedang bicara sendirian atau tertawa tanpa seorang pun terlihat bersamanya. Saat itu, mungkin saja Risa sedang bersama salah satu dari lima sahabatnya. Kalian mungkin tak melihatnya. Wajar. Mereka memang tak kasat mata dan sering disebut hantu jiwa-jiwa penasaran atas kehidupan yang dianggap mereka tidak adil.

Kelebihan Risa dapat melihat mereka adalah anugerah sekaligus kutukan. Kelebihan ini membawanya ke dalam persahabatan unik dengan lima anak hantu Belanda. Hari-hari Risa dilewati dengan canda Peter, pertengkaran Hans dan Hendrick dua sahabat yang sering berkelahi, alunan lirih biola William, dan tak lupa rengekan si Bungsu Johnsen.

Jauh dari kehidupan "normal" adalah harga yang harus dibayar atas kebahagiaan Risa bersama mereka. Dan semua itu harus berubah ketika persahabatan mereka meminta lebih, yaitu kebersamaan selamanya. Risa tak bisa memberi itu. Risa mulai menyadari bahwa hidup ini bukan hanya milik dia seorang.

Risa namnya. Risa bisa melihat 'mereka'. Pertemuan pertama Risa dengan teman-teman spesialnya adalah ketika Risa masih di bangku sekolah dasar, ketika dia baru saja pindah ke Bandung tinggal di rumah peninggalan zaman Belanda bersama neneknya. Risa tidak nyaman dengan teman sekolahnya, dia mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan, sering waktunya dihabiskan sendiri, hari-harinya terasa menyiksa. Namun, sejak ada suara anak laki-laki yang memanggil namanya, seorang anak laki-laki keturunan Belanda berambut pirang agak kecokelatan menghampirinya, kehidupan Risa berubah, dia mendapatkan sahabat, tidak hanya satu, tetapi lima sekaligus, sahabat beda dunia, mereka adalah hantu.

Mereka tak terpisahkan, bahkan Peter si nakal, William si pemain biola yang bijaksana, Hans si ahli pembuat kue, Hendrick sang primadona, dan Janshen si ompong sering memberi Risa semangat dalam hal apa pun, salah satu contoh untuk pergi sekolah, hal yang sangat tidak disukai Risa. Mereka adalah sumber tawa Risa, keluarga kecilnya. Namun, Risa sadar persahabatan mereka tidak akan abadi, Risa akan terus tumbuh menjadi gadis dewasa, mempunyai kehidupan sendiri bersama teman-teman yang sesungguhnya, sedangkan kelima sahabat kecilnya tetap akan menjadi anak kecil yang polos, lugu, jahil, dan tidak akan tumbuh dewasa.

Pernah terbersit untuk ikut ke dunia Peter, beberapa kali dia mencoba bunuh diri tetapi selalu gagal sampai akhirnya Risa sadar kalau hidupnya bukan hanya untuk dirinya, ada keluarga yang menyayanginya, ada teman-teman baru yang tidak akan rela bila Risa meninggalkan mereka. Bahkan, kisah hidup para sahabatnya menjadi pelajaran bagi Risa akan betapa pentingnya arti sebuah keluarga.

Peter yang sangat merindukan ibunya, Hans dan Hendrick yang dulunya bertetanggan walau sering bertengkar mereka saling menyayangi satu sama lain, sama halnya dengan kebanyakan orang. William yang kesepian, dia berasal dari keluarga kaya raya tapi minim perhatian, hanya dengan biolanya -Nouval dia tidak merasa sendirian. Kemudian si kecil Janshen yang sangat merindukan kakak perempuanya, Annabelle. Mereka memang nakal dan usil, tapi mereka layaknya anak kecil kebanyakan, semua mereka lakukan untuk menarik perhatian agar lebih didengar.

Pertemuan terakhir Risa dengan kelima sahabatnya adalah ketika Risa menginjak usia tiga belas tahun. Dulu Risa berjanji kalau usinya sama seperti Peter dia akan ikut ke dunianya, mengakhiri hidupnya. Tapi Risa mengingkari janji, dia ingin terus melanjutkan hidup. Peter marah dan bersama lainnya menghilang tidak pernah muncul lagi. Risa sangat kehilangan mereka, beberapa kali memohon agar mereka kembali, Risa tahu mereka masih berada di sekitarnya tapi enggan menampakkan diri.

Beranjak dewasa, kemampuannya masih tetap ada tapi bukan kelima hantu kecil Belanda yang dia lihat, dia melihat hantu-hantu yang lain, berbagai rupa, mendengar kisah hidup mereka, kadang sampai tidak tahan, ingin buta dan tuli sekaligus agar bisa hidup normal. Risa berharap suatu saat dia akan bertemu dengan sahabat-sahabat kecilnya, walau dia sudah tidak anak-anak lagi.

Seringkali kalian para orangtua, bersikap sangat realistis hingga acuh tak acuh dengan apa yang menurut kalian sangatlah tak logis. Risa memutuskan untuk bersabar sajalah. Mereka pasti nggak akan kuat berlama-lama tak menemui Risa lagi. Sementara waktu, Risa bisa bergaul dengan teman-teman sekolahnya yang sangat menyenangkan. Lagipula nggak ada salahnya mengenal hantu-hantu baru. Biarpun mereka jelek, tapi mereka sangat kasihan dan butuh teman bicara. Risa bisa menjadi seperti kita bagi mereka, menjadi diary yang bisa mereka coret dengan tinta-tinta kehidupan mereka saat masih hidup.

Risa belum sepenuhnya merasa menjadi perempuan dewasa. Karena, secara fisik mungkin memang terlihat sangat dewasa, namun secara sikap dia masih saja merasa sangat kekanakkan. Namun ada yang berbeda dari cara pandang dia. Kini, sebisa mungkin dia menikmati semua proses yang terjadi dalam kisah hidupnya. Tuhan mungkin memang menuliskan jalan hidup baginya, tapi tuhan masih memberinya kesempatan untuk menjalaninya sesuai yang diamau. Jika Risa terjatuh terperosok hingga tak mampu lagi bangkit, itu semua salahnya, bukan salah Tuhan, ujarnya seperti itu.

Kini mulai terlihat cahaya-cahaya indah di depan sana. Cahaya yang selama ini dicari oleh Riisa untuk menerangi hidup yang selama ini dia anggap suram dan remang. Semua yang pernah hilang berangsur kembali datang kedalam hidupnya yang kini mulai berwarna. Dia merindukan masa-masa seperti ini, mungkin suatu saat nanti masa-masa ini akan pergi seperti dulu lagi.

Mungkin nanti akan ada masa dimana akhirnya Risa kembali sendiri, mencoba merangkai kisah hidupnya tanpa didampingi siapa pun, dan Risa sangat berharap saat itu teman-teman hantunya mau kembali menjadi teman setianya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar